Sifat Sempurna Yang Layak Bagi Allah

Sifat Sempurna Bagi Allah

قال المؤلف رحمه الله : اْلفَعَّالُ لِّمَا يُرِيْدُ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وَ لاَ حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

“Dzat yang melakukan apa yang Ia kehendaki tanpa ada yang dapat menghalangi, apapun yang Allah kehendaki pada azal terjadinya pasti terjadi dan apapun yang tidak Allah kehendaki pada azal terjadinya pasti tidak terjadi, tidak ada daya untuk meninggalkan kemaksiatan kecuali dengan perlindungan Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya yang maha tinggi dan agung kekuasaan-Nya”.

Penjelasan: Allah maha kuasa untuk menciptakan sesuatu yang Ia kehendaki pada azal dengan mudah tanpa ada satupun makhluk yang bisa menghalangi terjadinya. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (baik benda atau perbuatanya, baik berupa kebaikan atau keburukan, kemaksiatan atau ketaatan, keimanan atau kekufuran) adalah terjadi dengan kehendak (iradah/masyiah) Allah.

Artinya Allah yang telah menentukan terjadinya, baik sifat-sifatnya maupun waktu terjadinya. Ketika manusia berbuat ketaatan seperti sholat, puasa, membaca al Qur’an, sedekah dan lainya adalah karena taufiq Allah, artinya Allah menciptakan kekuatan pada diri manusia tersebut untuk melakukan ketaatan.

Ketika manusia meninggalkan kemaksiatan seperti minum khomr, berjudi, berzina dan seterusnya maka itu semua adalah karena Allah melindunginya dari perbuatan-perbuatan maksiat tersebut. Tidak layak bagi kita untuk sombong dan ujub atas ketaatan yang kita lakukan, karena ketaatan tidak akan dapat kita lakukan tanpa taufiq Allah.

قال المؤلف رحمه الله : مَوْصُوْفٌ بِكُلِّ كَمَالٍ مُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوُ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ)

“Allah disifati dengan setiap sifat sempurna (yang layak bagi-Nya), disucikan dari setiap sifat kurang (sifat yang tidak layak bagi-Nya), tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya baik dari satu segi maupun semua segi dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” Penjelasan:

Ahlussunnah wal-Jama’ah meyakini bahwa Allah memiliki sifat tidak seperti Muktazilah yang menafikan sifat Allah (Mu’aththilah), sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk, sifat Allah azaliyah abadiyah (tidak berpermulaan dan berpenghabisan, tidak berubah-rubah), sedangkan sifat makhluk haaditsah (berpermulaan dan berubah-rubah).

Sifat Allah seluruhnya merupakan sifat kesempurnaan yang layak bagi Allah, sifat sempurna ada tiga:

1. Sifat sempurna yang layak untuk Allah dan makhluk-Nya misalnya sifat ilm, sama’, bashar.
2. Sifat sempurna yang hanya layak untuk manusia tidak untuk Allah misalnya sifat dzaka’ (cerdas).
3. Sifat sempurna yang hanya layak untuk Allah tidak untuk makhluk seperti al Jabbar.

Seluruh sifat makhluk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah, sehingga Allah disucikan dari semua sifat makhluk. Imam at Thohawi (227 H sd 321 H) berkata:

وَمَنْ وَّصَفَ اللهَ بِمْعنًى مِنْ مَعَانِي اْلبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ

Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu dari sifat manusia maka dia telah kufur, para ulama mengatakan: Q.S as Syura:11 adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menegaskan tanzih/tauhid; pensucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya secara total, para ulama berkesimpulan dari ayat tersebut bahwa: Allah bukan benda, Allah tidak disifati dengan sifat benda, Allah tidak berubah, Allah ada tanpa tempat dan arah, Allah tidak berlaku baginya zaman, Allah tidak berbentuk dan berukuran.

Allah bersifatan dengan sama’ (mendengar) yang tidak sama dengan sifat pendengaran makhluk, pendengaran Allah azali dan abadi tanpa membutuhkan telinga dan alat yang lainya, dengannya Allah mendengar segala sesuatu.

Allah bersifatan dengan bashar (melihat) yang tidak sama dengan penglihatan makhluk, penglihatan Allah azali dan abadi tanpa membutuhkan mata dan alat lainnya, dengannya Allah melihat segala sesuatu.