Memahami Sifat Qodim & Kalam Allah

Sifat Qodim Dan Kalam Allah

Allah Bersifat Qodim (Tidak Berpermulaan)

قال المؤلف رحمه الله تعالى : فَهُوَ اْلقَدِيْمُ وَ مَا سِوَاهُ حَادِثٌ وَهُوَ اْلخَالِقُ وَمَا سِوَاهُ مَخْلُوْقٌ

“Maka hanya Dia (Allah) saja yang qodiim (tidak berpermulaan), sesuatu selain-Nya adalah haadits (berpermulaan), hanya Dia (Allah) saja yang al Khaaliq (pencipta), sesuatu selain-Nya adalah makhluk (diciptakan).

Penjelasan:
Ahlussunnah wal-Jama’ah meyakini bahwa tidak ada yang qodiim (adanya tanpa permulaan) kecuali hanya Allah ta’ala saja. Hati-hati dengan keyakinan para Filousuf yang meyakini bahwa alam ini qodiim/azali.

Para Filousuf dalam masalah ini terbelah menjadi dua:

1. Filousuf generasi awal (mutaqoddimin) seperti Aristoteles meyakini bahwa jenis alam dan individu-individunya itu qodiim/azali.
2. Filousuf generasi akhir (muhdatsun) meyakini bahwa jenis alam itu qodiim/azali, sementara individu-individunya haadits. Di antara orang yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Taimiyah.

Al Imam Badruddin az Zarkasyi dalam kitab Tasyniiful masaami’ syarah Jam’ul Jawaami’ mengutip ijma’ tentang kukufuran dua golongan filousuf di atas, beliau mengatakan:

وَضَلَّلَهُمُ اْلمُسْلِمُوْنَ وَكَفَّرُوْهُمُ

“Umat Islam telah menyesatkan mereka dan telah mengkafirkan mereka”.

Memahami sifat qadim dan kalam Allah

Ahlussunnah wal-Jama’ah meyakini bahwa tidak ada pencipta (Dzat yang mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada) kecuali hanya Allah. Segala sesuatu selain Allah dari dzarroh (benda terkecil) sampai dengan arsy (makhluk terbesar), bergerak dan diam yang dilakukan manusia, niat dan bersitan hati, semua Allah yang telah menciptakannya. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Furqon ayat 2 :

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan Dia (Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu”

Allah pencipta manusia dan semua perbuatannya. Allah berfirman surat Ash-Shaffat ayat 96:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah yang telah menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan”.

Allah pencipta kebaikan dan keburukan. Allah ta’ala berfirman Surat Al Falaq 2 :

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dari keburukan sesuatu yang telah Allah ciptakan”.

Hati-hati dengan aqidah qodariyah yang dikembangkan HTI yang menyatakan manusia menciptakan perbuatannya yang ikhtiyariyah (terjadi dengan kehendak manusia), mereka juga meyakini Allah pencipta kebaikan saja. Tabiat dan ‘illah (semacam sebab) tidak menciptakan sesuatu. Tabiat api yang panas membakar tidak menciptakan terbakar. Allah pencipta sebab dan akibat.

Kalam Allah Qadiim Bukan Bahasa, Huruf dan Bukan Suara

قال المؤلف رحمه الله تعالى: وَكَلاَمُهُ قَدِيْمٌ كَسَائِرِ صِفَاتِهِ لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ مُبَايِنٌ لِجَمِيْعِ اْلمَخْلُوْقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَاْلأَفْعَالِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُوْلُ الظَّالِمُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا

“Dan kalam Allah itu qadiim (tanpa berpermulaan) seperti seluruh sifat Allah, karena Allah subhanahu tidak menyerupai seluruh makhluk pada dzat, sifat dan perbuatan. Sungguh Allah benar-benar maha suci dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dzalim (orang-orang kafir)”.

Penjelasan:
Ahlussunnah wal-Jama’ah meyakini bahwa seluruh sifat Allah itu qadiim/azaliy (tidak berpermulaan) dan abadi (tidak berpenghabisan) serta tidak berubah-ubah. Diantara sifat Allah adalah al-kalam, sehingga seperti halnya sifat-sifat yang lain, kalam Allah juga azali dan abadi (tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan).

Karena itu kalam Allah bukan bahasa, bukan huruf dan bukan suara. Kalam Allah bukan bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Suryani atau bahasa-bahasa yang lain. Kalam Allah bukan huruf hijaiyah, huruf latin, huruf jawa atau jenis huruf yang lain. Bagaimana dengan al-Qur’an, Zabur yang asli, Taurat yang asli dan Injil yang asli?

Kitab-kitab tersebut adalah kalam Allah juga dengan pengertian ibarah (ungkapan) dari kalam Allah yang merupakan sifatnya.

Kalam Allah memiliki dua pengertian:

1. Kalam Allah adz Dzatiy yang merupakan sifat Allah yang azali dan abadi; bukan bahasa huruf, bahasa dan suara.
2. Al Lafdhu al Munazzal (lafadz yang diturunkan) kepada sebagian para nabinya, berupa bahasa, huruf dan suara. Ini adalah ungkapan dari kalam Allah yang merupakan sifat-Nya.

Kenapa Al Lafdhu al Munazzal tetap disebut kalam Allah? Karena ia adalah ‘ibarah (ungkapan) dari kalam Allah ta’ala yang azali dan abadi, dan karena ia bukan karangan malaikat Jibril atau nabi Muhammad.

Pendekatannya; lafadz Jalalah (Allah) adalah ungkapan dari dzat yang azali dan abadi. Apabila kita mengatakan “kami menyembah Allah” maka yang dimaksud adalah Dzat tersebut, bukan lafadznya. Apabila lafadz Jalalah tersebut ditulis di papan tulis, maka boleh kita katakan “ini adalah Allah” dengan pengertian ini adalah tulisan yang mengungkapkan dzat yang azali dan abadi, tidak berarti bahwa tulisan lafadz jalalah itu adalah tuhan yang kita sembah.

Allah tidak menyerupai makhluk, baik dzat, sifat maupun perbutan-Nya. Dzat makhluk artinya jisim/badannya. Sedangkan dzat Allah artinya hakekat Allah dan tidak ada yang mengetahui hakekat Allah kecuali hanya Allah, karena hakekat Allah bukan berupa jisim. Sifat makhluk adalah sifat yang haaditsah (baharu, berpermulaan dan berubah-ubah).

Sedangkan sifat Allah adalah azaliyah dan abadiyah; tidak berubah-ubah. Perbuatan makhluk adalah perbuatan yang haaditsah (baharu dan berpermulaan), Allah yang telah menciptakannya pada makhluk. Sedangkan perbuatan Allah itu azali dan abadi; bukan makhluk.

Allah maha suci dari yang dikatakan oleh orang-orang dzalim. Orang dzalim yang dimaksud di sini adalah orang kafir. Karena kekufuran adalah kedzaliman yang paling besar.

Allah ta’ala berfirman, Al Baqoroh 254:

وَاْلكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Dan orang-orang kafir, mereka adalah orang-orang yang dzalim”.