Mu’jizat Mi’roj – Allah Bukan di Arah Atas

Mu'jizat Mi'roj

Penting! Dalam mengimani peristiwa Mu’jizat Isro dan Mi’roj harus sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah, terlebih terkait dalam Mi’roj. Nabi naik ke langit ke tujuh bukan berarti Allah berada di alam atas, maha suci Allah dari bertempat, berarah. Karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (11) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (12) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) (النجم: ١١ – ١٤)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.

Saudara-saudaraku seiman,

Pada setiap bulan Rajab, umat Islam di berbagai belahan dunia menyelenggarakan Perayaan Isra’ Mi’raj, sebuah peristiwa agung yang merupakan salah satu mu’jizat yang Allah anugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari atas mimbar, pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan menyampaikan penjelasan dari para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seputar Mu’jizat Mi’raj dan bahwa mu’jizat yang agung ini tidak menunjukkan Allah di atas. Karena kesepakatan para ulama menyatakan bahwa Allah ada tanpa membutuhkan kepada arah dan tempat. Allah ada tanpa tempat.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mu’jizat Isra’ telah disebutkan dalam al-Qur’an secara tegas dan eksplisit. Oleh karenanya, barangsiapa mengingkari Isra’, maka ia telah mendustakan al-Qur’an.

Sedangkan Mi’raj, al-Qur’an tidak menyebutkannya secara sharih dan eksplisit. Akan tetapi menyatakannya dengan keterangan yang mendekati nash yang sharih (eksplisit).

Dalam mukadimah di atas, khatib membacakan surat an-Najm ayat 11 s.d 14 yang maknanya: “Hati Nabi tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

Maka Apakah kalian (Musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha.” (QS an-Najm: 11-14)

Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah menyatakan: Barangsiapa mengingkari Mu’jizat Mi’raj karena ketidaktahuannya tentang adanya Mi’raj dalam syara’, maka ia tidak kafir. Akan tetapi dihukumi fasik.

Karena al-Qur’an tidak menyebutkan Mi’raj secara eksplisit. Berbeda dengan Mu’jizat Isra’ yang disebutkan secara eksplisit. Sedangkan seseorang yang mengingkari Mi’raj dengan maksud menentang ajaran agama, maka ia tidak lagi tergolong kaum Muslimin.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi imam shalat bagi para nabi di Baitul Maqdis, beliau lalu dibawa naik ke langit. Jibril pun meminta dibukakan pintu langit dan dikatakan kepadanya: Siapa Anda?.

Jibril menjawab: Jibril. Ditanyakan: Siapa yang bersamamu?. Jibril menjawab: Muhammad. Ditanyakan lagi: Apakah ia telah diutus untuk Mi’raj ke langit?. Jibril menjawab: Iya, ia telah diutus untuk Mi’raj.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits yang panjang:

“Lalu pintu langit pertama dibuka untuk kami. Ternyata sudah ada Nabi Adam di sana. Ia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril bersamaku naik ke langit kedua.

Lalu ia meminta dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: Siapa Anda?. Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu?. Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya lagi: Apa sudah saatnya Muhammad dimi’rajkan?. Jibril menjawab: Iya, sudah saatnya dimi’rajkan.

Lalu pintu langit kedua dibuka untuk kami. Ternyata sudah ada dua nabi bersaudara sepupu di sana, yaitu ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya ‘alaihimassalam.

Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.” Demikianlah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah dari satu langit ke langit berikutnya.

Di langit ketiga, beliau bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang telah dikaruniai ketampanan yang luar biasa.

Di langit keempat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Nabi Yusuf dan Nabi Idris ‘alaihimassalam juga mendoakan kebaikan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian di langit kelima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam.

Di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyandarkan punggungnya ke al-Baitul Ma’mur.

Al-Baitul Ma’mur adalah bangunan yang suci dan mulia. Ia adalah tempat thawaf bagi para malaikat yang merupakan penghuni langit sebagaimana Ka’bah adalah tempat thawaf bagi para penghuni bumi.

Setiap harinya, al-Baitul Ma’mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk melakukan shalat di sana lalu keluar dan tidak kembali ke sana selamanya. Begitu seterusnya sampai hari kiamat.

Setelah itu Jibril membawa Nabi naik hingga ke Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang sangat besar nan indah menakjubkan.

Daun-daunnya lebar seukuran telinga gajah dan buah-buahnya besar seperti qullah (gentong). Akarnya berada di langit keenam dan menjulang tinggi sampai mencapai atas langit ketujuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sewaktu beliau berada di atas langit ketujuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan: “Tidak seorang pun di antara makhluk Allah yang mampu menyifati Sidratul Muntaha saking indahnya.

Kemudian Allah mewahyukan kepadaku beberapa hal: Allah wajibkan kepadaku 50 kali shalat dalam sehari semalam.

Lalu aku turun menemui Nabi Musa. Ia bertanya: Apa yang Allah wajibkan kepada ummatmu?. Aku menjawab: 50 kali shalat. Musa berkata: Kembalilah ke tempat yang di sana engkau menerima wahyu dan berdoalah meminta keringanan kepada Allah, karena umatmu tidak akan mampu melakukannya, aku telah memiliki pengalaman dengan Bani Israil tentang hal semacam ini.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke tempat semula dan meminta keringanan kepada Allah seraya berkata:

يَا رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي

“Ya Allah berilah keringanan untuk ummatku.” Nabi bersabda: “Maka Allah mengurangi menjadi lima shalat.

Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan aku berkata: Allah mengurangi menjadi lima shalat untukku. Musa berkata: Umatmu tidak akan mampu melakukan itu, maka mintalah kembali kepada-Nya keringanan.”

Maka Nabi pun beberapa kali memohon keringanan kepada Allah hingga Allah mewahyukan kepadanya kewajiban shalat lima kali sehari semalam.

Setiap shalat terhitung pahalanya seperti sepuluh shalat. Sehingga totalnya menjadi lima puluh shalat. Allah juga mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa berkeinginan melakukan satu kebaikan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka dihitung satu kebaikan.

Sedangkan jika dia mengerjakannya dihitung sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa berkeinginan melakukan keburukan dan tidak mengerjakannya maka tidak dicatat sebagai keburukan. Sedangkan jika dia mengerjakannya, maka dihitung satu keburukan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa maksud dan tujuan dari Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperlihatkan kepada beliau keajaiban-keajaiban di alam atas, seperti langit, al-Baitul Ma’mur, Sidratul Muntaha, ‘Arsy, surga dan lain-lain, serta mengagungkan derajat beliau.

Sangat penting ditegaskan bahwa peristiwa Mi’raj tidak berarti sampainya Nabi ke sebuah tempat yang Allah berada di sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bertemu dan berkumpul dengan Allah seperti bertemunya makhluk dengan makhluk.

Karena Allah Mahasuci dari tempat, arah dan ruang. Allah bukan jism (sesuatu yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman) dan Allah tidak menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tegaskan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشورى: ١١)

Maknanya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. asy-Syura: 11)

Oleh karenanya, jangan mempercayai sebagian buku yang menyampaikan cerita-cerita dusta yang menyatakan bahwa pada saat Mi’raj Allah mendekat kepada Muhammad hingga berjarak satu hasta atau bahkan lebih dekat.

Kisah-kisah semacam ini sangat bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan ayat 8 dan 9 dari surat an-Najm:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) (النجم: ٨ – ٩)

Tidak boleh dimaknai bahwa Allah-lah yang mendekat kepada Muhammad hingga jaraknya seukuran dua busur panah atau lebih dekat.

Makna ayat tersebut sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Mi’raj adalah Jibril, bukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita tidak boleh menyifati Allah dengan sifat berjarak dekat atau pun jauh. Karena berjarak dengan sesuatu yang lain adalah termasuk salah satu sifat makhluk yang menunjukkan tempat dan arah tertentu.

Padahal para ulama kita selalu menjelaskan bahwa Allah Mahasuci dari semua tempat dan arah. Hal itu berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin seperti ditegaskan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam karyanya, al-Farq baina al-Firaq:

وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ

“Kaum Muslimin menyepakati bahwa Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat.”

Hadlratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan dalam mukadimah kitab at-Tanbihatul Wajibat:

وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ

“Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Mahasuci dari berbentuk (berjisim), arah, masa dan tempat.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan dapat memperkokoh akidah dan keimanan kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ