Aqidah Salaf Abad Pertama

aqidah ulama salaf abad pertama

Sayyidina Ali bin Abi Thalib (w. 40 H) -radliyallahu ‘anhu- berkata:

مَن زَعَمَ أن إلهنَا محدودٌ فقد جَهِلَ الخالقَ المعبودَ

“Barangsiapa yang menyangka bahwa tuhan kita (Allah) itu mahdud (memiliki bentuk dan ukuran) maka dia tidak mengenal Pencipta yang disembah”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliya’)

Penjelasan

Mahdud dalam istilah ulama tauhid artinya sesuatu yang memiliki bentuk atau ukuran, baik kecil maupun besar. Arsy (makhluk Allah yang paling besar ukurannya) itu mahdud, demikian juga adz Dzarrah (makhluk Allah yang paling kecil yang bisa dilihat dengan mata) itu juga mahdud, cahaya, kegelapan, angin itu juga mahdud.

Aqidah Ulama Pada Abad Pertama

Makna perkataan Sayyidina Ali; orang yang meyakini bahwa Allah memiliki bentuk dan ukuran maka dia tidak mengenal Allah (bukan seorang mukmin). Kelompok yang meyakini bahwa Allah bertempat di atas Arsy, di atas langit dan tempat lainnya berarti telah meyakini bahwa Allah memiliki ukuran. Karena setiap yang bertempat pasti punya ukuran.

1. Adakalanya berukuran sama dengan tempatnya

2. Adakalanya berukuran lebih kecil dari tempatnya

3. Adakalanya berukuran lebih besar dari tempatnya. Berarti orang yang meyakini bahwa Allah bertempat tidak mengenal Allah.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib (40 H) -radliyallahu ‘anhu- berkata:

سَيَرْجِعُ قَوْمٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عِنْدَ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ كُفَّارًا فَقَالَ رَجُلٌ: يَا أَمِيْرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ: كُفْرُهُمْ بِمَاذَا أَبِاْلإِحْدَاثِ أَمْ بِاْلإِنْكَارِ؟ فَقَالَ: بَلْ بِاْلإِنْكَارِ يُنْكِرُوْنَ خَالِقَهُمْ فَيَصِفُوْنَهُ بِاْلجِسْمِ وَاْلأَعْضَاءِ

“Ketika mendekati hari kiamat, sekelompok orang dari umat ini akan kembali menjadi orang-orang kafir. Salah seorang bertanya: Wahai amirul mukminin, kekufuran mereka apakah karena membuat hal-hal baru atau karena pengingkaran?.

Beliau menjawab: “Kekufuran mereka karena pengingkaran. Mereka mengingkari sang Pencipta dan mensifati-Nya dengan benda dan memiliki anggota-anggota badan”. (Diriwayatkan oleh Ibn al-Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya “Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi”).

Penjelasan

Sayyidina Ali bin Abi Thalib -radliyallahu ‘anhu- menjelaskan penyebab kekufuran sekelompok orang di akhir zaman adalah dengan mengingkari sang Pencipta, yaitu dengan cara:

1. Mensifati Allah dengan sifat jisim. Mereka mengatakan bahwa Allah itu memiliki bentuk, ukuran, berada pada tempat dan arah.

2. Mensifati Allah dengan anggota badan. Mereka mengatakan bahwa Allah itu memiliki anggota badan seperti muka, mata, tangan dan seterusnya.

Pernyataan Sayyidina Ali sangat sesuai dengan sifat kelompok Wahhabi pada masa sekarang.

Sayyidina Zainal An as Sajjad Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 95 H) -radliyallahu’ anhuma- berkata:

أَنْتَ اللهُ اَّلذِيْ لاَ يَحْوِيْكَ مَكَانٌ

“Engkau Allah, Dzat yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al Hafidz Muhammad Murtadla az Zabidi dalam kitab Ithaf as Sadah al Muttaqin fi Syarh Ihya’ Ulumiddin, juz 4)

Penjelasan

Sayyidina Ali bin al-Husain -radliyallahu ‘anhu- adalah:

1. Beliau bernama Ali bin al-Husain, lahir pada tahun 38 H dan wafat pada tahun 95 H.

2. Putra dari cucu tercinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sayyidina al-Husain yang disebut Nabi sebagai pemimpin para pemuda Surga bersama saudaranya Sayyidina al-Hasan -radliyallahu ‘anhuma-.

3. Laqob/julukan Sayyidina Ali bin al-Husain adalah Zainal Abidin dan as-Sajjad, karena beliau dalam sehari semalam tidak kurang dari seribu rekaat melakukan sholat sunnah, dan beliau dikenal sebagai orang yang sangat khusyu’ di dalam sholatnya.

Dalam perkataan di atas, beliau menegaskan bahwa “Allah ada tanpa tempat.

  • Tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda/jisim.
  • Allah bukan benda/jisim, karenanya tidak boleh dikatakan Allah bertempat pada suatu tempat.

Beliau juga mengatakan:

أَنْتَ اللهُ الَّذِيْ لاَ تُحَدُّ فَتَكُوْنَ مَحْدُوْدًا

“Engkau Allah, Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau mahdud (sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran)”.