Aqidah Salaf Abad Kedua Hijriyyah

Aqidah Salaf Abad Kedua

Aqidah Salaf Pada Abad Kedua Hijriyyah

Sayyidina Jakfar as Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal Abidin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib -radliyallahu ‘anhum- (w. 148 H) berkata:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللهَ فِي شَيْءٍ، أَوْ مِنْ شَيْءٍ، أَوْ عَلَى شَيْءٍ فَقَدْ أَشْرَكَ. إِذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَيْءٍ لَكَانَ مَحْمُوْلاً، وَلَوْ كَانَ فِي شَيْءٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا، وَلَوْ كَانَ مِنْ شَيْءٍ لَكَانَ مُحْدَثًا- أَيْ مَخْلُوْقًا

“Barangsiapa beranggapan bahwa Allah ada dalam sesuatu atau berasal dari sesuatu atau berada di atas sesuatu maka dia telah syirik. Karena apabila Allah ada di atas sesuatu maka Dia mahmul, Apabila Allah berada dalam sesuatu maka Dia mahshur dan apabila Allah berasal dari sesuatu maka Dia makhluk” (Diriwayatkan oleh al Qusyairi dalam kitab ar Risalah al Qusyairiyah, h. 6)

aqidah salaf

Sayyidina al-Imam Jakfar as-Shadiq –radliyallahu ‘anhu- adalah:

  1. Nama beliau adalah Ja’faf bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, lahir pada tahun 83 H dan wafat pada tahun 148 H.
  2. Beliau adalah cucu Rasulullah yang diklaim kelompok Syiah sebagai imam mereka, padahal beliau adalah imam Ahlussunnah wal Jama’ah yang mencapai derajat ijtihad muthlaq.
  3. Beliau adalah salah satu guru dari al Imam Abu Hanifah radliyallahu ‘anhu.

Makna perkataan Sayyidina Jakfar as-Shadiq –radliyallahu ‘anhu-:

  • Allah tidak berada di atas sesuatu, sebab jika dikatakan Dia berada di atas sesuatu maka artinya Allah itu mahmul. Mahmul artinya dibawa oleh sesuatu.
  • Allah tidak berada di dalam sesuatu, karena jika dikatakan bahwa Dia berada di dalam sesuatu maka artinya Allah mahshur ☝Mahshur artinya terbatas pada sesuatu.
  • Allah itu tidak berasal dari sesuatu (azali), sebab jika dikatakan Dia berasal dari sesuatu maka artinya dia muhdats/makhluk. ☝Muhdats artinya diadakan dari tidak ada menjadi ada.

Orang yang meyakini bahwa Allah di atas, di dalam dan dari sesuatu menjadi musyrik. Karena dia telah menyembah makhluk yang dia khayalkan sebagai Allah.

Al-Imam Al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit -radliyallahu ‘anhu- (w.150 H) berkata:

وَاللهُ تَعَالَى يُرَى فِي اْلآخِرَةِ، وَيَرَاهُ اْلمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي اْلجَنَّةِ بِأَعْيُنِ رُؤُوْسِهِمْ بِلَا تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِيَّةٍ، وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَةٌ

“Allah ta’ala itu bisa dilihat di akhirat, orang-orang mukmin melihat-Nya ketika mereka berada di dalam Surga dengan mata kepala mereka, tanpa tasybih (penyerupaan), tanpa kammiyyah (ukuran), tidak ada jarak di antara Dia dan makhluk-Nya” (Disebutkan al-Imam Abu Hanifah dalam kitab al-Fiqh al-Akbar).

Imam Abu Hanifah –radliyallahu ‘anhu- adalah:

  1. Namanya Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit.
  2. Beliau lahir pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 150 H
  3. Beliau adalah seorang mujtahid muthlaq pendiri madzhab Hanafi
  4. Meskipun dikenal sebagai ahli fiqih, tetapi beliau telah menulis 5 kitab yang secara khusus menjelaskan tentang ilmu tauhid/ilmu kalam, di antaranya adalah al Fiqh al-Akbar, al-Fiqh al-Absath dan al-Washiyyah.

Hal ini menunjukkan bahwa para ulama Salaf memiliki perhatian besar terhadap ilmu tauhid yang disebut juga ilmu kalam, membantah kelompok yang mencela ilmu kalam secara muthlaq.

Makna perkataan imam Abu Hanifah –radliyallahu ‘anhu-:

Penduduk surga (orang mukmin) akan melihat Allah dengan mata kepala mereka. Mereka di dalam surga sedangkan Allah ada tanpa tempat dan arah (tidak di dalam surga juga tidak di luar surga, tidak di depan, di belakang, di atas, di bawah, di kanan dan di kiri mereka).

Hal ini dapat dipahami dari lanjutan perkataan beliau:

  1. Dengan tanpa tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), karena jika dikatakan bahwa Allah bertempat di dalam atau di luar surga maka akan serupa dengan makhluk.
  2. Dengan tanpa kammiyyah (ukuran), karena jika dikatakan Allah bertempat pasti berukuran lebih besar, sama besarnya atau lebih kecil dari surga.
  3. Tidak ada jarak antara Allah dan makhluk Nya, karena jika dikatakan Allah bertempat pasti ada jarak antara Dia dan makhluk, baik jauh atau dekat dan berada pada arah tertentu.

Al Imam Al Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit -radliyallahu ‘anhu- (w. 150 H) berkata:

وَنُقِرُّ بِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَيْهِ وَاسْتِقْرَارٍ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ اْلعَرْشِ وَغَيْرِ اْلعَرْشِ مِنْ غَيْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَّا قَدَرَ عَلَى إِيْجَادِ اْلعَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَاْلمَخْلُوْقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إِلَى اْلجُلُوْسِ وَاْلقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ اْلعَرْشِ أَيْنَ كَانَ اللهُ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا

“Kita menetapkan bahwa Allah subhanahu wata’ala ‘ala al-Arsy istawa tanpa membutuhkan kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Allah adalah Dzat yang menjaga Arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepadanya, apabila Allah butuh pada lainnya maka Dia tidak akan kuasa untuk mengadakan alam dan mengaturnya seperti halnya makhluk, apabila Allah butuh pada duduk dan menetap maka sebelum terciptanya Arsy, di mana Allah?! Allah benar-benar maha suci dari semua itu.”(Disebutkan oleh Imam Abu Hanifah dalam kitab al-Washiyyah).

Imam Abu Hanifah –radliyallahu ‘anhu- menegaskan bahwa Allah ‘ala al-Arsy istawa tidak dengan makna duduk dan bersemayam di atas Arsy, tetapi dengan makna Allah adalah Dzat yang menjaga dan memelihara Arsy.

Argumentasi imam Abu Hanifah –radliyallahu ‘anhu- atas hal itu sebagai berikut:

  1. Apabila Allah ‘ala al-Arsy istawa diartikan Allah duduk atau bersemayam di atas Arsy maka berarti Dia butuh kepada Arsy, padahal sesuatu yang membutuhkan pada yang lain berarti lemah, dan sesuatu yang lemah tidak mungkin berkuasa untuk menciptakan alam semesta.
  2. Apabila Allah butuh pada duduk dan menetap, pertanyaannya, sebelum Arsy diciptakan di mana Allah?!

Jika dikatakan, sebelum tercipta Arsy Allah ada tanpa Arsy, kemudian setelah tercipta Arsy berubah menjadi butuh pada Arsy untuk duduk dan menetap maka berarti Dia makhluk, karena berubah adalah tanda terbesar dari makhluk.

Jika dikatakan, Arsy tidak diciptakan (azali, tidak berpermulaan adanya) maka ini berarti menyamakan Allah dengan Arsy, sama-sama ada tanpa permulaan.