Aqidah Tanzih Generasi Salaf

Aqidah Sahabat Nabi

Abu Bakar as-Shiddiq (w. 13 H) radliyallahu ‘anhu berkata:

الْعَجْزُ عَنْ دَرَكِ الإِدْرَاكِ إِدْرَاكٌ * وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ

“Merasa lemah dari mengetahui hakikat Allah adalah keimanan. Dan mencari-cari hakekat dzat Allah dengan cara membayangkan-Nya adalah kekufuran dan kesyirikan” (Diriwayatkan oleh al-Faqih al-Muhaddits Badruddin az-Zarkasyi)

Penjelasan

Sayyidina Abu Bakr al-Shiddiq –radliyallahu ‘anhu- adalah:

1. Nama beliau adalah Abdullah bin Abi Quhafah, lahir pada 3 tahun setelah tahun gajah dan wafat pada tahun 13 H.

2. Beliau adalah sahabat Rasulullah yang paling mulia, bahkan wali Allah yang paling mulia sejak zaman nabi Adam sampai kiamat.

3. Beliau adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa

4. Beliau adalah salah satu dari 10 orang yang dikabarkan oleh Rasulullah dalam satu majelis akan masuk surga.

5. Beliau adalah sahabat Nabi yang seluruh harta bendanya diinfaqkan untuk dakwah Islam.

6. Beliau adalah sahabat Nabi yang kesahabatannya ditetapkan dalam al-Qur’an

7. Beliau adalah mertua Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, putri beliau yang bernama Aisyah menjadi istri Rasulullah.

8. Beliau adalah khalifah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang pertama.

Makna perkataan sayyidina Abu Bakr al-Shiddiq Radliyallahu ‘anhu: Seseorang yang mengakui bahwa dirinya tidak bisa mengetahui hakekat Allah adalah orang yang beriman. Karena tidak ada yang mengetahui hakekat Allah kecuali hanya Allah. Sebab hakekat Allah bukan benda dan tidak disifati dengan sifat benda, ada tanpa tempat dan arah, sehingga Allah tidak bisa dibayangkan, digambarkan dan dikhayalkan.

Aqidah Generasi Salaf

Seseorang yang berusaha mengetahui hakekat Allah dengan cara membayangkan dan menggambarkan Allah, maka dia akan jatuh pada kekufuran dan kesyirikan. Karena semua yang ada dalam bayangan dan gambaran manusia adalah benda, dan orang yang meyakini bahwa Allah benda berarti telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Aqidah Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib

Sayyidina Ali bin Abi Thalib (w. 40 H) -radliyallahu ‘anhu- berkata:

كَانَ اللَّهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ

“(Pada azal) Allah ada dan tidak ada tempat dan Dia sekarang (setelah terciptanya tempat) tetap seperti semula (ada tanpa tempat)” (Diriwayatkan oleh imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al-Farqu Bain al-Firaq)

Penjelasan

Sayyidina Ali bin Abi Thalib –radliyallahu ‘anhu- adalah:

1. Anak dari paman (sepupu) Rasulullah, lahir pada tahun 23 SH dan wafat pada tahun 40 H.

2. Beliau adalah menantu Rasulullah, Suami dari Fathimah binti Rasulullah.

3. Beliau adalah khalifah keempat, setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman.

4. Beliau wali termulia setelah Sayyidina Abu Bakr, Umar dan Utsman.

5. Beliau adalah sahabat Nabi yang paling luas ilmunya, Rasulullah bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.

6. Beliau adalah salah satu dari 10 orang yang dikabarkan masuk surga (al ‘Asyarah al Mubasyasyarun bil Jannah).

7. Dijuluki sebagai Mishbah at Tauhid (lampunya tauhid), sebab beliau banyak menjelaskan akidah Ahlussunnah wal jama’ah.

Makna perkataan Sayyidina Ali radliyallahu ‘anhu:

Sebelum Allah menciptakan langit, bumi, Arsy dan tempat-tempat lainnya, Allah ada tanpa tempat-tempat tersebut. Setelah langit, bumi, Arsy dan tempat-tempat lainnya diciptakan oleh Allah, Allah tidak berubah, Allah tetap ada tanpa tempat. Karena berubah adalah tanda terbesar makhluk. Setiap yang berubah membutuhkan pada yang merubahnya, dan setiap yang membutuhkan pada yang lainnya adalah lemah, dan sesuatu yang lemah bukanlah Tuhan. Sebab tidak mungkin alam semesta yang begitu luas dan menakjubkan diciptakan oleh dzat yang lemah, pastilah ia diciptakan oleh Dzat yang Maha Berkuasa.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib (w. 40 H) -radliyallahu ‘anhu- berkata:

إنَّ الله خَلَقَ العَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذهُ مَكَاناً لِذَاتِهِ

“Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya dan tidak untuk Ia jadikan sebagai tempat bagi Dzat Nya” (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al-Farq bain al-Firaq).

Penjelasan

Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar bentuk dan ukurannya, letaknya di atas langit ke tujuh, bagian dari Arsy merupakan atap surga. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa Arsy adalah makhluk, Allah yang menciptakannya. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa tujuan penciptaan Arsy adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah (tanda kebesaran kekuasaan Allah).

Para malaikat (penduduk langit) yang melihat keagungan Arsy akan bertambah kuat keimanannya kepada Allah, Penciptanya. Sayyidina Ali menegaskan bahwa tujuan penciptaan Arsy bukan untuk dijadikan tempat duduk atau tempat tinggal bagi Allah.

Ini adalah bantahan terhadap kelompok mujassimah Wahhabi yang mengatakan bahwa Allah bertempat, duduk, bersemayam di atas Arsy.

Aqidah musyabbihah bertentangan dengan akidah Sayyidina Ali karramallahu wajhah.