Aqidah Tanzih Imam Ahmad

Aqidah Tanzih Imam Ahmad

Al-Imam Al-Mujtahid Ahmad bin Hanbal (241H) –radliyallahu ‘anhu berkata:

مَنْ قَالَ أَنَّ اللهَ جِسْمٌ لاَ كَالْأَجْسَامِ كَفَرَ

“Barangsiapa yang berkata bahwa Allah itu jisim tidak seperti jisim maka dia kufur”. (Diriwayatkan oleh al Imam Badruddin az Zarkasyi dalam kitab Tasynif al Masami’ Syarh Jam’i al Jawami’)

Al Imam Ahmad –radliyallahu ‘anhuadalah:

  1. Namanya Ahmad bin Hanbal, lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H
  2. Seorang mujtahid muthlaq pendiri madzhab Hambali
  3. Beliau diklaim sebagai imam kelompok Wahhabi, padahal Aqidah mereka berbeda dengan Aqidah Imam Ahmad.
  4. Beliau diberi gelar Syaikh alHuffadz, beliau hafal satu juta hadits, baik matan maupun sanadnya.

Al Imam Ahmad bin Hanbal mengkafirkan orang yang meyakini bahwa Allah itu berupa jisim (al Mujassim). Termasuk al mujassim adalah orang yang meyakini Allah bertempat di suatu tempat. Al Imam Ahmad juga mengkafirkan orang yang meyakini bahwa Allah itu jisim yang tidak seperti jisim. Karena dalam perkataan ini ada kontradiksi (tanaqudl). Tidak ada faidah perkataan “tidak seperti jisim” setelah menetapkan bahwa “Allah itu jisim”.

Perkataan seperti ini seperti perkataan seseorang: Allah itu bodoh tidak seperti orang-orang bodoh, Allah itu dzalim tidak seperti orang-orang dzalim. Perkataan tersebut berbeda dengan perkataan: lillahi yadun laa kaaidina, lillahi wajhun lakawajhina.

Aqidah Imam Ahmad Bin Hanbal

Karena jisim hanya memiliki satu makna yang tidak layak bagi Allah, sebagaimana bodoh dan dzalim. Sementara yad dan wajh memiliki banyak makna, yang sebagian layak bagi Allah dan sebagian tidak layak bagi-Nya.

Al Imam Ahmad bin Hanbal (241H) –radliyallahu anhu berkata:

إِنَّ اْلأَسْمَاءَ مَأْخُوْذَةٌ بِالشَّرِيْعَةِ وَالُّلغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوْا هَذَا اْلاِسْمَ عَلَى كُلِّ ذِيْ طُوْلٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيْبٍ وَصُوْرَةٍ وَتَأْلِيْفٍ، وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسَمَّى جِسْمًا لِخُرُوْجِهِ عَنْ مَعْنَى اْلجِسْمِيَّةِ، وَلَمْ يَجِئْ فِي الشَّرِيْعَةِ ذَلِكَ، فَبَطَلَ

“Sesungguhnya nama itu diambil dari syariat dan bahasa. Dan ahli bahasa menggunakan nama ini (jisim) untuk sesuatu yang memiliki panjang, lebar, ketebalan, rangkaian, bentuk dan susunan, sedangkan Allah keluar dari semua itu, sehingga tidak boleh Allah dinamakan dengan jisim karena keluarnya Allah dari makna jisim. Dalam syariat juga tidak ada nama itu untuk Allah, maka batal-lah (penamaan Allah dengan jisim)”.

(Diriwayatkan oleh Abu al Fadl at Tamimiy, pemimpin ulama madzhab Hanbali dalam kitab I’tiqod al Imam Al Mubajjal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal)

Dasar penamaan sesuatu ada dua, yaitu bahasa dan syariat.

Tidak boleh menamakan Allah dengan jisim, karena dua hal:

  1. Dalam syariat (al Qur’an dan hadits), tidak ada penamaan Allah dengan jisim.
  2. Dalam bahasa, penamaan Allah dengan jisim tidak sesuai dengan kesucian Allah dari menyerupai makhluk.

Karena menurut bahasa jisim artinya sesuatu yang memiliki panjang, lebar, kedalaman, bentuk dan susunan. Sedangkan sesuatu yang memiliki panjang, lebar, ketebalan, bentuk dan susunan adalah makhluk. Karena membutuhkan kepada yang menjadikannya pada panjang, lebar dan kedalaman tersebut. Allah maha suci dari menyerupai makhluk.

Ketika ditanya tentang al-Istiwa’, al Imam Ahmad bin Hanbal (241H) -­radliyallahu anhu – menjawab:

اسْتَوَى كَمَا أَخْبَرَ لَا كَمَا يَخْطُرُ لِلْبَشَرِ

“Allah istawa sebagaimana Dia kabarkan (dalam Al Qur’an), tidak seperti yang terlintas pada (hati) manusia”.

(Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam kitab al Burhan al Muayyad dan al Imam Taqiy ad-Din al Hushni dalam kitab Daf’u Syubah man Syabbaha Watamarrod)

Makna perkataan al Imam Ahmad bin Hanbal -­radliyallahu anhu -adalah:

  • Istiwa’ Allah tidak sama dengan istiwa’ yang terlintas dalam hati manusia.
  • Istiwa’ yang terlintas dalam hati manusia adalah duduk dan bersemayam.

Dengan demikian “Istiwa’ Allah bukan duduk dan juga bukan bersemayam”.

Al Imam Ahmad bin Hanbal tidak menentukan makna dari Istawa, tetapi beliau tidak memaknainya dengan makna dzahirnya. Dengan demikian, beliau melakukan takwil meski secara ijmali (global), tidak secara tafshili (terperinci). Pernyataan al Imam Ahmad bin Hanbal ini adalah bantahan telak terhadap Wahhabi yang mengaku-ngaku sebagai pengikut al Imam Ahmad tetapi meyakini Allah duduk di atas Arsy.

Ibnu Taimiyah (panutan Wahhabi) mengatakan: “Allah duduk di atas Arsy dan mendudukan nabi Muhammad bersama-Nya”. (Lihat kitab Majmu’ al Fatawa jilid 4)

Al Imam Al Mujtahid Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan al Imam Tsauban bin Ibrahim Dzun Nun al Mishriy (w. 179 H) –rahimahumallah- berkata:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ

“Apapun yang tergambar dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah berbeda dengan itu”.

Diriwatkan dari al Imam Ahmad oleh Abu al Hasan at-Tamimi al Hanbali dalam kitab I’tiqod al Imam Al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal.

Diriwayatkan dari Dzun Nun al Mishriy oleh al Hafidz Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh Dimasqa.

Makna perkataan di atas adalah:

Allah berbeda dengan apa yang tergambar, terfikirkan dan terbayang dalam benak kita. Karena setiap yang tergambar dalam benak manusia adalah benda yang disifati dengan sifat benda (bertempat, berarah, memiliki bentuk dan ukuran, memiliki warna dan seterusnya). Akal manusia tidak bisa menjangkau dan mengetahui hakekat Allah. Karena hakekat Allah bukan benda, sementara yang tergambar dan terpikir dalam benak adalah benda.

Karena itu, umat Islam dilarang untuk berfikir, membayangkan dan menggambarkan Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ فِكْرَةَ فِي الرَّبِّ

“Tidak boleh berfikir tentang Tuhan”. (Diriwayatkan oleh al Hafidz as Suyuthi dalam kitab Tafsirnya)

Sahabat Ibnu Abbas Radliyallahu anhu berkata:

تَفَكَّرُوْا فِي كُلِّ شَيْءٍ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي ذَاتِ اللهِ

“Berfikirlah tentang tentang segala sesuatu dan jangan berfikir tentang dzat Allah”. (Diriwayatkan oleh Al Hafidz al Bayhaqi dalam kitab al Asma wa as Shifat)