Orang Yang Meyakini Allah Jisim (Al Mujassim) Keluar Dari Islam

Almujassim Kafir

Al Imam As-Syafi’iy (204 H)  radliyallahu ‘anhu berkata:

اْلمُجَسِّمُ كَافِـرٌّ لاَ تَصِحُّ الصَّلاَةُ خَلْفَهُ

“Orang yang meyakini Allah jisim (al Mujassim) itu kafir, tidak sah shalat di belakangnya”. (Diriwayatkan oleh al Hafidz as Suyuthi dalam kitab al Asybah wa an Nadzair)

Imam as Syafi’iy radliyallahu ‘anhu adalah:

  1. Nama beliau Muhammad bin Idris, lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H.
  2. Beliau adalah seorang mujtahid muthlaq pendiri madzhab Syafi’i
  3. Meskipun dikenal sebagai ahli fiqih, tetapi beliau juga memiliki perhatian khusus terhadap ilmu tauhid/ilmu kalam, terbukti beliau memiliki dua kitab yang ditulis khusus menjelaskan tentang ilmu kalam, yaitu al-Qiyas dan ar-Radd ala al-Barahimah.
  4. Beliau adalah seorang ulama yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam sabdanya:

عَالِمُ قُرَيْشٍ يَمْلأُ طِباقَ الأَرْضِ عِلْمَا

“Ulama Qursaiy yang ilmunya akan memenuhi bumi”.

Makna perkataan Imam As-Syafi’iy radliyallahu ‘anhu:

Al Mujassim adalah Orang yang meyakini bahwa Allah berupa jisim, jisim adalah sesuatu yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman.

Orang yang mensifati Allah dengan sifat jisim adalah:

  • Orang yang meyakini Allah bertempat, karena setiap yang bertempat pasti berupa jisim.
  • Orang yang meyakini Allah berada pada arah, karena setiap yang berada pada arah pasti berupa jisim.
  • Orang yang meyakini Allah memiliki ukuran, karena setiap yang berukuran adalah jisim.
  • Orang yang meyakini Allah beranggotakan badan seperti mata, tangan, telinga dan seterusnya.

Al Imam Al Mujtahid Muhammad bin Idris as-Syafi’iy (204 H) –radliyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّهُ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ اْلمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ اْلأَزَلِيَّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ اْلمَكَانَ وَلاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِ وَلاَ التَّبْدِيْلُ فِي صِفَاتِهِ

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebagaimana sebelum terciptanya tempat. Tidak boleh bagi-Nya (secara akal) berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya”

(Diriwayatkan oleh al Hafidz Muhammad Murtadha az-Zabidi, dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya Ulumiddin, juz 2)

Orang yang meyakini Allah jisim itu kafir

Dalam perkataannya ini al Imam as-Syafi’iy Radliyallahu ‘anhu menegaskan bahwa:

  • Allah itu ada tanpa permulaan (azali), ada tanpa didahului oleh ketiadaan.
  • Pada azal ketika tempat belum diciptakan, Allah ada tanpa tempat.
  • Setelah Allah menciptakan tempat, Allah tetap ada tanpa tempat.
  • Sebab Dzat Allah itu azali (tidak berpermulaan) dan abadi (tidak berakhiran), tidak berubah-ubah.
  • Sebagaimana Dzat Allah itu azali, sifat-sifat Allah juga azaliah (tidak berpermulaan) dan abadiyah (tidak berakhiran), tidak berubah-ubah.

Orang yang meyakini bahwa Allah bertempat berarti meyakini Allah itu berubah, padahal setiap yang berubah adalah makhluk, sebab setiap yang berubah pasti butuh kepada yang merubahnya.

Al-Imam Al-Mujtahid Muhammad bin Idris as-Sya>fi’iy (204 H) radliyallahu ‘anhu- berkata:

مَنِ انْتَهَضَ لِمَعْرِفَةِ مُدَبِّرِهِ فَانْتَهَى إِلَى مَوْجُوْدٍ يَنْتَهِي إِلَيْهِ فِكْرُهُ فَهُوَ مُشَبِّهٌ، وَاِنِ اطْمَأَنَّ إِلَى اْلعَدَمِ الصِّرْفِ فَهُوَ مُعَطِّلٌ وَاِنِ اطْمَأَنَّ إِلَى مَوْجُوْدٍ وَاعْتَرَفَ بِاْلعَجْزِ عَنْ إِدْرَاكِهِ فَهُوَ مُوَحِّدٌ

“Barangsiapa yang berusaha untuk mengenal Pengaturnya (Allah) kemudian sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu ada berdasarkan pemikirannya maka dia musyabbih, dan apabila sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada maka dia Mu’aththil, dan apabila sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu ada dan mengakui ketidakmampuannya dalam mengetahui hakekat Allah maka dia Muwahhid” (Diriwayatkan oleh al Imam Al Bayhaqi)

Al Imam as-Syafi’iy rahimahullah menjelaskan, bahwa orang yang berusaha mengenal Allah terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk), yaitu orang yang meyakini bahwa Allah seperti apa yang tergambar dan terbayang dalam pikirannya.

Karena setiap yang tergambar dalam pikiran manusia adalah jisim yang bersifatan dengan sifat jisim.

  1. Mu’aththil (orang yang menafikan adanya Allah), yaitu orang yang meyakini bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, tidak ada pencipta yang mengadakannya.
  2. Muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah), yaitu orang yang meyakini bahwa Allah itu ada, tetapi tidak serupa dengan makhluk-Nya, Ia bukan benda sebagaimana tergambar dalam pikirannya.

Seorang Muwahhid mengakui kelemahannya dalam mengetahui hakekat Allah, sehingga dia tidak memikirkan, membayangkan, menggambarkan dan mengkhayalkan Allah.